Loading...

Jumat, 22 September 2017

Maaf Jenderal, Film G30S/PKI Belum juga Lulus Sensor


Berita - Menarik memerhatikan dinamika perbincangan di sosial media belakangan ini. Perubahan bebrapa gosip yang keluar kepermukaan amat cepat sekali, seakan-akan ada kemampuan dibalik semuanya bebrapa gosip itu untuk merekayasa opini serta persepsi umum sesuai sama yang dikehendaki. 

Dalam penilaian saya, yang di tujuan mereka tetaplah saja yaitu Jokowi. Hal semacam ini tampak dari penggorengan semuanya gosip, baik nasional ataupun internasional berniat digiring untuk menyalahkan Jokowi. 

Sekian hari waktu lalu, orang-orang kita masih tetap repot mengulas mengenai perseteruan komunal di lokasi Rakhine State, Myanmar di sosial media. Tidak cuma di sosial media, di berjalan-jalan ada juga yang sampai kesurupan serta terlepas kendali waktu berikan orasi. Tanpa ada basic menuduh pemerintahan Jokowi pencitraan karna sudah kirim pertolongan kemanusiaan untuk pengungsi etnis Rohingya di Bangladesh. 

Belum juga selesai hingga disitu, ada pula yang teriak kalau Jokowi mesti selekasnya hentikan perseteruan di Rakhine State, Myanmar. Memang Jokowi presiden di Myanmar? Yang kacolah fikiran kakek tua itu. 

Ada sekali lagi, yang ini lebih gilak. Demonya bertopik masalah Rohingya, namun berisi jadi teriak “jangan tentukan Ketua PSSI jadi Gubernur Sumatera Utara! ”. Loh… Hubungan apa ya? HaHaHaHa… Basic bani saracen! Maksud mereka sesungguhnya mungkin saja begini, “pilihlah Bekacul Sembriwing si penebar photo hoax pembantaian etnis Rohingya itu. ” 

Kecenderungan mengait-ngaitkan masalah atau problem apa pun yang berlangsung di bumi ini pada Jokowi sangatlah seringkali berlangsung. Pembantaian etnis Rohingya, yang disalahkan Jokowi. Waktu telah dibantu jadi dituduh pencitraan, Jokowi disalahkan sekali lagi. Raisa jatuh ke pelukan Hamish Daud yang yaitu warga negara Australia juga yang disalahkan Jokowi. Ini zaman mulai edan! Namun dapat kita maklumi karna th. politik nasional 2019 telah mulai mendekat. Persaingan perebutan serta penggorengan gosip, bahkan juga yang telah basipun juga akan dikerjakan lewat cara apa pun untuk menghempang Jokowi di th. 2019. 

Sesudah semuanya gosip di atas digoreng habis-habisan untuk menyerang Jokowi, nampaklah gosip PKI yang tuturnya juga akan bangkit kembali. Lantas pemerintahan Jokowi dihujat, dituduh jadi antek-antek dan pelindung PKI. 

Kelihatannya mereka sudah kehabisan gosip serta langkah untuk menyerang Jokowi, hingga pada akhirnya nampaklah inspirasi masalah PKI. Pintarnya mereka, tangan seseorang Jenderal jadikan jadi pemantik pemicunya. Kebijakan kontraversial “nonton bareng film G30/S lantas di keluarkan lewat tangan sakti sang Jenderal. 

Kita mengerti begitu usaha kerasnya TNI membuat perlindungan dianya supaya selalu dimasa depan tidak dipersalahkan oleh siapa saja atas penumpasan anggota-anggota PKI tidak ada pendekatan hukum yang berlaku waktu itu. Beberapa warga yang dituduh PKI seolah-olah halal hidupnya di ambil TNI tidak ada pengadilan pada saat itu. 

Dalam catatan wikipedia. org, ada sekitaran 1/2 juta orang yang dituduh anggota PKI dibantai serta lebih kurang satu juta orang dipenjara. Peristiwa pembantaian ini berlangsung pada saat transisi ke masa Orde Baru. Tak ada yang sempat mempersoalkannya. Anehnya sekali lagi, kita lebih takut pada PKI daripada kejamnya masa Orde Baru. 

Kecenderungan cerita histori yang terbangun di mata umum dari materi film G30S/PKI hasil produksi Orde Baru itu tidak beda yaitu jadikan PKI jadi beberapa orang yang begitu kejam, tidak miliki agama, pembunuh, tidak miliki rasa kemanusiaan serta pemberontak negara. Di bagian beda, keluar image kalau TNI bersih dari lumuran darah beberapa orang tidak berdosa yang di bantai bebas sesuai sama yang mereka kehendaki. 

Tetapi lepas dari kontroversi materi film nya, yang beberapa orang menganggapnya lebih pas diketegorikan jadi film fiksi daripada kelompok film histori. Kita butuh buat catatan gawat sebelumnya kelak film itu mengakibatkan kerusakan generasi kita kedepan serta lantas kita menyesalinya masa datang. 

Satu diantara kekeliruan fatal Orde Baru yaitu mewajibkan semuanya warga negara untuk melihat film G30S/PKI tiap-tiap tahunnya, pas di tanggal 30 September, tidak perduli umurnya berapakah. Dalam makna kata, tak ada control atau batasan serupa sekali untuk mereka yang masih tetap di bawah usia. 

Film G30S/PKI dengan semua kesadisannya jadikan film itu termasuk juga dalam kelompok film paling beresiko bila dilihat oleh anak-anak di bawah usia. Tambah lebih beresiko dari siaran SMACK-DOWN yang terlarang itu. Mengapa? Karna sadisnya dapat memengaruhi mental anak-anak, bahkan juga dapat lebih kronis, bermuara pada praktik/mengikuti adegan sadir itu tanpa ada mereka sadar kalau itu beresiko. 

Apakah ini yang dikehendaki sang Jenderal? Hingga beliau ngotot memutar film G30S/PKI di beberapa ruangan umum, terutama keluarkan perintah nobar dengan orang-orang? 

Bila ini yang dikerjakan, saya sangka orang-orang bukannya menuai isi sejarahnya, tetapi demikian sebaliknya jadi memetik kerugian dari sisi mental anak-anak mereka yang rusak karena melihat kesadisan dalam film itu. Mereka (*anak-anak) akan tidak tahu isi histori yang Ayah Jenderal maksud, namun lebih pada isi kekerasannya serta kesadisannya. 

Oleh karenanya, kita tidak ingin pemutaran film ini mengakibatkan kerusakan mental kita sekali lagi sesudah demikian banyak generasi yang rusak dimasa Orde Baru karena pemutaran film G30S/PKI terlalu berlebih serta kurun waktu yang begitu lama. 

Berikut pentingnya merevolusi mental seperti yang disebutkan Jokowi, mental yang membaja untuk selalu bekerja untuk tanah air. Bukanlah mental yang senantiasa dijajah oleh masa kemarin. 

Mungkin saja salah-satu kerisauan yang mendorong Jokowi untuk buat film G30S/PKI baru versus melanial atau kekinian. Faedahnya juga akan begitu banyak. Satu diantara contoh kecilnya yaitu pembatasan adegan sadis atau sensor adegan sadis. 

Jadi, bagaimana nonton barengnya pak Jenderal? Tunggulah dahulu, sesudah lulus sensor dari instansi sensor perfilman Indonesia. Ini untuk anak-anak kita, beberapa penerus bangsa ini. Janganlah kita rusak mental mereka dengan adegan-adegan sadis.

0 komentar:

Posting Komentar

BeritaJakart2017. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

 
close
Poker Online Terbaik Indonesia