Loading...

Senin, 11 September 2017

Ahok Ikhlas “Disembelih” untuk Selamatkan Indonesia


Berita - Sebenarnya, mulai sejak hari pertama resmi mencalonkan diri jadi calon Wakil Gubernur DKI Jakarta mengikuti Jokowi 5 th. lantas, Ahok telah ramai “dibully” oleh mereka yang kurang menghormati kebhinnekaan, oleh mereka yang berasumsi kalau di pimpin oleh seorang yang berlainan latar belakang dengan mereka jadi suatu hal yg tidak layak. 

Namun karna saat itu tempat Ahok tidaklah jadi orang nomor satu, bebrapa suara sinis berbau SARA itu berlalu demikian saja. Jokowi-Ahok pada akhirnya berhasil memenangkan kontestasi lima tahunan itu sesudah berkompetisi ketat dengan calon gubernur petahana di putaran ke-2. 

Baru dua th. menjabat jadi wagub, Ahok mesti ditinggal pergi oleh Jokowi. Jokowi diakui oleh lebih dari 50 % orang-orang Indonesia untuk jadi pemimpin teratas di negeri ini lewat satu penentuan presiden yang demikian riuh saat itu. 

Berkali-kali Ahok berujar di media kalau sebenarnya ia tidak suka ditinggal sendiri mengemban tanggung jawab yang mahaberat itu, untuk mengurusi ibukota Negara, dan lebih kurang sepuluh juta penduduknya dengan semua keruwetannya.


Meskipun Ahok “naik pangkat” jadi gubernur, hal tersebut tidak dan merta membuatnya bahagia. Ahok sadar benar kalau di samping tantangan berat untuk mengatur Jakarta yang perlu ditanganinya, ada satu sekali lagi problem yang membuatnya bimbang : gosip SARA yang sering dialamatkan padanya yang selalu bergema meskipun gema itu terkadang keluar serta terbenam. 

Ketegaran serta keteguhan hati seseorang Ahok membuatnya dapat melalui semua kerumitan yang dihadapinya untuk menyelesaikan tugasnya jadi Gubernur DKI Jakarta. Telah demikian banyak yang ditanganinya untuk warga DKI. Permasalah akut yang sepanjang bertahun-tahun dihadapi oleh warga, di tangan Ahok, diatasi dengan baik. 

Sungai-sungai jadi bersih, jumlah daerah berlangganan banjir alami penurunan mencolok. Normalisasi sungai yang gencar dikerjakannya, dapat dibuktikan dapat menanggulangi problem banjir di Jakarta. Jumlah titik banjir yang menjangkau 2. 200 titik, saat Ahok baru menjabat jadi Wakil Gubernur DKI Jakarta th. 2012 lantas, sampai Februari 2017, cuma tersisa 80 titik sekali lagi. Banjir sebagai problem kritis di Jakarta sepanjang bertahun-tahun, cuma kurang dari lima th., berhasil diatasi oleh Ahok.

Begitu pula dengan penataan lalu lintas, transportasi dan infrastruktur pendukungnya, dikerjakan secara baik oleh Ahok. Lewat berbagai terobosan tersebut, tingkat kemacetan di Jakarta dapat diminimalisir. Pun moda transportasi di DKI diremajakan oleh Ahok, yang membuat wajah DKI lebih indah.

Perhatian Ahok terhadap nasib buruh juga begitu nyata. Selama Ahok menjabat, ia telah menaikkan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta hingga hampir tiga kali lipat. Dari hanya Rp1.529.150,- pada tahun 2012, dinaikkan hingga Rp 3.355.750,- untuk tahun 2017.


Masih banyak lagi pencapaian Ahok yang membuat warga Jakarta hidup lebih sejahtera: seperti KJP bagi siswa kurang mampu, reformasi birokrasi yang diacungi jempol oleh banyak pihak dan beberapa kali mendapat penghargaan dari berbagai lembaga atas keberhasilan pelaksanaan reformasi birokrasi yang digagas dan dilaksanakan oleh Ahok tersebut, penyelamatan uang Negara hingga triliunan Rupiah, serta prestasi lainnya.

Akan tetapi, ada pihak-pihak yang terganggu atas semua pencapaian dan sepak terjangnya. Isu SARA kembali dihembuskan begitu kencangnya. Ahok “dibully” beramai-ramai. Ia dituduh menista agama yang membuatnya harus dihukum penjara selama dua tahun.

Ahok ramai diperbincangkan di media sosial dan media-media lainnya. Ada yang pro ada pula yang kontra. Tetapi semua itu tidak membuatnya mundur. Ahok menghadapinya dengan kepala tegak. Ia tidak berhenti berjuang untuk warganya. Berjuang untuk mewujudkan keadilan sosial di DKI Jakarta.

Jauh-jauh hari sebelum Pilkada DKI Jakarta yang cukup panas itu digelar, sesungguhnya Ahok kerap kali diserang berita-berita bohong serta ujaran kebencian berbau SARA. Adalah Amien Rais yang berulang kali menyerang Ahok dengan berbagai berita bohong.

Dalam berbagai kesempatan, Amien Rais menyebut Ahok sebagai aktor utama atas sejumlah kasus korupsi di Jakarta. Ahok disebutnya telah menggunakan dana CSR untuk kepentingan pribadi dan telah melakukan tindak pidana korupsi atas pembangunan taman BMW dan pengadaan lahan Rumah Sakit Sumber Waras yang belakangan telah diklarifikasi KPK bahwa mereka tidak menemukan adanya indikasi korupsi di sana.


Amien Rais sepertinya memang memiliki dendam kesumat kepada Ahok. Di samping dituduh sebagai koruptor dan menganggap Ahok sebagai seorang pemimpin yang sombongnya setinggi langit karena Ahok dianggapnya tidak pro rakyat kecil, Amien Rais juga menyebut Ahok sebagai si sontoloyo, si pekok, dewa ingusan kecil, kaki tangan para konglomerat pemodal, bahkan menyebutnya sebagai seorang “Dajjal” yang harus dilawan.

Haji Lulung, Fadli Zon dan Fahri Hamzah juga menjadi orang yang amat rajin menyerang Ahok dengan berbagai sindiran pedas. Berbagai macam tuduhan dialamatkan kepada Ahok, sekalipun berbagai tuduhan tersebut tidak pernah terbukti.

Atas semua sindiran tajam serta semua kebohongan yang dengan terus-menerus mereka tebar di beberapa ruangan umum itu, pada akhirnya beberapa besar rakyat Jakarta menganggapnya jadi satu kebenaran. Ahok yang jujur serta baik hatinya itu, Ahok yang anti-korupsi itu, Ahok yang berjuang mati-matian untuk warga Jakarta, Ahok yang mencurahkan semua fikiran serta tenaganya untuk Jakarta yang tambah baik, Ahok yang “ngantor” pagi-pagi sekali serta pulang tengah malam untuk melayani orang-orang DKI itu, mesti menelan pil pahit. Lebih dari 50 % warga DKI tak akan menghendakinya jadi gubernur. 

Tidak lama berselang sesudah Ahok dinyatakan tidak berhasil menjaga kursinya di Balaikota, Ahok kembali mesti ditest kesabaran serta keteguhan hatinya. Ia divonis penjara sepanjang dua th. oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Vonis itu tambah lebih tinggi dibanding dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum, yang cuma menuntutnya hukuman 1 th. dengan masa percobaan 2 th.. 

Telah jatuh ditimpa tangga juga. Ahok, sosok yang benar-benar begitu super serta langka itu, cuma oleh karna ketegasan serta kejujurannya, mesti di kirim ke “tempat tinggal” barunya sesudah ia divonis bersalah. Dibalik jeruji yang dingin itu, Ahok mesti melupakan beberapa ratus malam tanpa ada didampingi istri serta anak-anak yang disayanginya. 

Lagi, Ahok yang berjuang mati-matian untuk kesejahteraan rakyat Jakarta mesti jadi pesakitan. Benar-benar begitu tragis. Tragis sekali. Tetapi Ahok menerimanya dengan lega dada. Ia tidak memberontak. Ia tetaplah tegar.


Ketegaran serta ketulusan hati Ahok diperlihatkan dengan ketentuan besarnya membatalkan tujuannya naik banding atas masalah yang menimpanya. Naik banding untuk mencari keadilan atas masalah yang menimpanya, sebenarnya yaitu haknya. Tetapi Ahok tidak mempergunakan hak itu. 

Ahok lebih memprioritaskan kebutuhan bangsa, satu kebutuhan yang semakin besar. Keputusannya tidak untuk banding, hanya hanya untuk mendinginkan situasi Jakarta yang masih tetap panas waktu itu. Ia mengerjakannya untuk kebutuhan serta kedamaian dengan, kedamaian semua orang-orang Indonesia. Agar perpecahan yang sudah berlangsung tidak makin kronis. 

Kehebatan, ketegaran, kejujuran serta ketulusan Ahok, juga disertai oleh istrinya, Veronica Tan. Atas vonis dua th. yang di terima suaminya, saya begitu percaya, jadi manusia umum, pastinya hatinya remuk, pastinya fikiran serta perasaannya hancur lebur, namun ia tetaplah tegar, tetaplah kuat, tetaplah teguh. 

Ibu Vero begitu sadar, kalau ia bukanlah sekali lagi cuma istri seseorang gubernur yang dipenjara karna ketegasan serta kejujurannya, bukanlah sekali lagi cuma ibu untuk anak-anak mereka, namun ia yaitu ibu untuk beberapa orang. Ibu untuk mereka yang tertindas serta teraniaya. Ibu sebagai teladan untuk beberapa ibu di negeri ini. 

Meskipun badai demikian kencangnya menimpa, namun ia tetaplah tenang, bahkan juga masih tetap memikirikan nasib serta kebutuhan orang banyak. Veronica Tan tidak menentang ketentuan yang di buat oleh Ahok, suaminya, untuk membatalkan tujuannya naik banding atas masalah yang menimpanya. 

Jadi seseorang istri yang perlu memikul beban yang lebih berat atas dipenjaranya Ahok suaminya, begitu lumrah untuk “ngotot” agar Ahok meniti langkah hukum untuk mencari keadilan. Namun ia tidak lakukan itu. Ia pilih untuk mensupport ketentuan suaminya. Veronica Tan pilih untuk patuh serta tunduk jadi seseorang istri. Sebab ia sadar kalau Ahok buat ketentuan besar itu hanya cuma untuk satu kebutuhan yang semakin besar. 

Menyikapi ketidakadilan yang dihadapi Ahok, beberapa pendukungnya berdemo di mana-mana. Beberapa ratus ribu orang di beberapa kota di Indonesia bahkan juga di beberapa puluh kota di beberapa negara di belahan dunia, dengan suka-rela berkumpul tanpa ada “embel-embel”. Mereka menyalakan lilin jadi lambang perlawanan pada kegelapan sembari menyanyikan lagu-lagu perjuangan serta lagu-lagu nasional yang menggetarkan hati serta jiwa, sembari meneriakkan NKRI, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika yaitu harga mati. 

Tetapi dari penjara, Ahok menghimbau beberapa pendukungnya untuk hentikan semua tindakan itu. Lewat surat yang ditulisnya untuk semua simpatisannya, yang dibacakan dengan deraian air mata oleh sang istri, Ahok kirim pesan yang benar-benar menyejukkan hati, ia kirim pesan damai, ia kirim pesan persatuan serta kesatuan bangsa.

Ahok tidak menghujat atas ketidakadilan yang diterimanya. Ahok tidak memprovokasi beberapa simpatisan agar selalu berdemo agar ia dibebaskan. Ahok tidak menyalahkan siapapun juga seperti jamak kita jumpai dikerjakan oleh beberapa orang yang beberapa riil sudah tidak mematuhi hukum. 

Tetapi, Ahok berpesan tidak untuk sekali lagi berdemo yang menurut dia cuma juga akan menyebabkan kemacetan serta kerugian ekonomi. Sama-sama demo menurut dia cuma juga akan berikan celah untuk pihak-pihak yang menginginkan menunggangi tindakan demo itu. Lewat suratnya, ia mengajari kita untuk sama-sama mengampuni serta sama-sama terima. 

Kalau saja Ahok divonis bebas oleh hakim saat itu, atau divonis sesuai sama tuntutan jaksa, jadi Jakarta serta kota-kota beda di Indonesia juga akan naik-turun hebat. Ahok “sang penista” itu juga akan didemo habis-habisan dengan satu tuntutan tunggal : Penjarakan Ahok!!! 

Kalau juga Ahok tidak dipenjara, jadi mereka yang teratur berdemo sepanjang nyaris setahun paling akhir juga akan dengan gampang berkata : Jokowi sudah mengintervensi sistem peradilan pada Ahok. Tindak setelah itu apa? Mereka juga akan dengan beberapa riil mengarahkan “panah” mereka pada Jokowi. Sembari mengepal tangan, mereka juga akan berteriak-teriak : Turunkan Jokowi, Turunkan Jokowi!! 

Ahok memanglah “harus dipenjara. ” Dia sudah “disembelih” untuk jadi korban untuk kedamaian serta ketentraman Indonesia, untuk terwujudnya persatuan serta kesatuan bangsa, untuk tersambungnya kembali keselarasan sesama anak bangsa yang demikian bermacam. Ahok yaitu “tumbal” untuk mempersatukan kembali Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar

BeritaJakart2017. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

 
close
Poker Online Terbaik Indonesia