Loading...

Sabtu, 05 Agustus 2017

Ahok Bersaksi dan 8 Fakta Nyata Buni Yani Akan Dibui !


Berita - Ahok direncanakan juga akan bersaksi di persidangan minggu depan. Buni Yani di pastikan, pada akhir persidangan juga akan dibui. Terkecuali sebab persidangannya yaitu penegakan hukum dengan hukum-politik serta politik-hukum, juga dari bagian hukum tersebut. UU ITE dengan terang sudah menggariskan beragam ketetapan untuk mengatur kemaslahatan orang-orang. Ada delapan argumen yang mendasarinya untuk meringkuk dalam ruangan berterali besi. Ini usaha supaya tidak muncul kegaduhan baru. 

Kesaksian serta info Ahok di persidangan dibutuhkan, terkecuali 125 saksi serta enam saksi pakar. Tetapi hadirnya Ahok juga tidak mutlak. Ahok juga sudah disuruhi info dalam berita acara kontrol (BAP) serta sudah disumpah. Jadi kemunculannya jadi tentatif apabila tidak ada info di BAP dipandang sudah mewakili serta bisa dibacakan di muka sidang.


Rasa Keadilan

Rasa KeadilanUntuk keadilan. Buni Yani bisa saja terasa percaya lolos dari jerat hukum pasal 28 UU ITE itu. Tetapi beragam kenyataan tunjukkan kalau hukum tidaklah mengenai perasaan. Bukanlah perasaannya yang juga akan memenanginya. Bukanlah. Perasaan bisa dibawa ke mana-mana. Di bawah ini sebagian kenyataan menunjukkannya. 
Misalnya, sebelumnya pra-peradilan serta sidang masalah Buni Yani, Fahira Idris berteriak-teriak mengenai peradilannya. Fahira Idris yang menyebutkan dengan dihukumnya Ahok, jadi peradilan untuk Buni Yani tidak relevan. Akhirnya? 

Peradilan kasusnya tetaplah jalan. Putusan sela menyebutkan lanjut. Berarti, dalam masalah yang dituduhkan, tindakannya layak diadili. Fahira salah. Komporan serta keinginan Fahira tidak berhasil keseluruhan. Praperadilan keok. Lanjut ke persidangan. 

Jadi bolehlah Buni Yani rasakan atmosfir bebas karna Ahok telah dipenjara. Tetapi yang tentu, kaitan kebutuhan berkaitan keadilan untuk (Ahok) serta NKRI yang mengagumkan buat pemenjaraan yaitu keniscayaan. 

Jadi dalam soal perasaan ini, pertimbangan perasaan keadilan juga menuntut malah Buni Yani mesti dipenjara. Masak provokator pembuat gaduh 6 bulan juga akan dilewatkan berkeliaran. Masak dibebaskan. Keadilan jenis mana di negara hukum ini berlaku. Ahok dipenjara, Buni Yani dipenjara. Masihkah dia terasa juga akan lolos? Teruskan!



Merasa Berjasa untuk Islam Radikal

Merasa Berjasa untuk Islam RadikalBuni Yani bisa juga mengharapkan rasakan balas layanan dari kelompok Islam radikal. Benar dia. Ketika itu memanglah pergerakan Islam radikal diuntungkan dengan postingannya. Berdasar pada tulisan itu, jadi Ahok layak dipenjara. 

GNPF yang menunggangi MUI juga jadi himpunan beberapa aktivis serta pergerakan Islam radikal plus beberapa orang perencana makar. Menyatu mereka memperoleh amunisi untuk menyerang Jokowi – lewat Ahok tujuan pada. 

Karena sangat terasa kuatnya Islam radikal serta simpatisannya, seakan Jokowi juga akan jatuh dengan gampang, beragam manusia mengolok-olok Presiden Jokowi berkaitan ungkapan Saya Pancasila, Saya Indonesia. 

Zulkifly Hasan misalnya. Dia menyebutkan Saya Zulkifly Hasan, Saya Bukanlah Pancasila. Juga Fadli Zon menyebutkan Saya Pancasila dipandang jadi jargon belaka, bukanya di dukung untuk melawan Islam radikal yang akan ganti Pancasila seperti HTI. Saat ini? Saksikan karena perbuatan Buni Yani.



Akhir Euforia Kemenangan Islam Radikal

Karena komporan serta provokasi Buni Yani, bukanlah Islam radikal yang menang. Malah perlawanan selalu berjalan keras. Perlawanan orang-orang pada golongan bumi datar, daster Arabia, sumbu pendek, serta golongan celana cingkrang menguat. 

Golongan bumi bulat, toleransi, cerdas, Pancasialis, serta tawadhu yang bernama silent majority bergerak melawan pergerakan intoleransi mereka yang meneror keruntuhan NKRI. 

Kampus-kampus menyebutkan perang melawan intoleransi. Beberapa puluh kampus di Jawa Barat mencanangkan pengamalan Pancasila kembali. Sekalian mereka mengawasi pergerakan aktivitas keagamaan berbau HTI yang anti Pancasila, seperti di pusatnya paling hot, IPB Bogor, UIN Jakarta, serta UGM serta UNY Jogjakarta, umpamanya. 

Euforia mimpi kemenangan Islam radikal seperti HTI serta FPI, FUI, dengan support MUI sudah selesai. Slogan serta mimpi revolusi, harapan makar, serta rancangan pemakzulan pada Presiden Jokowi tidak berhasil keseluruhan. Islam radikal mati kutu. 

Jadi, saat ini, siapa juga yang membela serta mensupport Buni Yani juga akan dihubungkan dengan kelompok Islam radikal yang segelintir. Mereka juga berupaya menyelamatkan diri serta tidak ingin dihubungkan dengannya. Anies-Sandi tidak bakalan berkunjung ke sidangnya di Bandung. FPI mungkin saja beberapa, karna Rizieq tengah terbuang di negeri onta Arabia. HTI sudah bubar. Desakan umum yang membelanya hanya segelintir. 

Jadi benar-benar mengenaskan nasib Buni Yani. Dia saat ini malah dipandang jadi penyebabnya kehancuran pergerakan Islam radikal. Buni Yani dibuang, seperti tercampakkannya HTI ke tong sampah histori.



Kelas Kroco Pilek Dapat Mainan

Buni Yani berasumsi berjasa untuk beberapa politikus seperti SBY, Prabowo, serta Juiceuf Kalla yang mensupport Anies-Sandi. Benar. Ia berjasa itu cuma ketika itu. Ya karna dia hanya manusia kelas cere yang memperoleh mainan ketenaran. Tetapi saat ini ada kenyataan baru perubahan politik besar. Kesadaran kalau Presiden Jokowi tegas mengatasi Islam radikal dengan TNI, Polri, serta orang-orang. 

Semuanya juga akan lari tunggang langgang bila dihubungkan dengan Buni Yani serta dipandang mensupport provokator pembuat kerusuhan penuh dengki pada Ahok – menyebabkan tuntutan keadilan untuk Ahok. Ingin saksikan penyebab yang memaksa kesadaran perlawanan golongan toleransi? Di bawah ini dikaji. 

Pergerakan 1000 lilin menuntut keadilan masalah Ahok berjalan di Surabaya, Medan, Jakarta, serta beragam kota di Indonesia. Desakan massa ketika itu untuk keadilan untuk Ahok, yang waktu itu tengah memajukan banding, demikian besar dari semuanya kelompok. (Perlawanan golongan bumi datar, daster Arabia, golongan celana congkrang serta sumbu pendek hanya pawai obor.) 

Kemudian keluar pergerakan tegas Polri supaya tidak tunduk serta takut dengan pergerakan menumpas pendemo yang anarkis serta Islam radikal dan teroris. Beberapa ribu karangan bunga menghiasi semua jalanan di sekitaran markas besar Polri. Mensupport Polri melakukan tindakan tegas. 

Rakyat geram sekalian prihatin Pilkada DKI Jakarta jadikan alat untuk memecah-belah bangsa serta negara. Kolaborasi SBY, Prabowo, JK dengan kelompok FPI serta Islam radikal seperti FUI, HTI, untuk mensupport Anies-Sandi sudah menghentak orang-orang. Pidato Prabowo menyongsong kemenangan antek FPI Anies, yang mengatakan Rizieq FPI jadi pemberani, jadi catatan begitu politikus seperti Prabowo di dukung oleh FPI. 

Saat ini konstelasi peta serta keadaan politik Indonesia sudah beralih. Beberapa politikus simpatisan Islam radikal saat ini alergi bila dihubungkan dengan Islam garis keras serta radikal. Seperti manusia kacau tujuan pendirian seperti Adyaksa Dault kalang kabut dikatakan sebagai simpatisan HTI. Jadi janganlah mengharapkan mereka juga akan mensupport Buni Yani. 

Juga kelompok simpatisan serta penganut Islam radikal saat ini beberapa besar tiarap.



Pembuat Gaduh

Pembuat GaduhMasalah Ahok jadi ramai dikarenakan oleh pelintiran, komporan, provokasi SBY. Dendam kesumat pada Presiden Jokowi serta Ahok berlangsung. Pemicunya yaitu mereka tutup banyak pintu korupsi. Ini buat beberapa koruptor membiayai pergerakan Islam radikal, teroris, serta grup anti Pancasila. 

Buni Yani juga dipandang berjasa buat gaduh serta keadaan politik panas. Dia berjumpa serta jadi simbol kampanye Anies-Sandi. SBY, Prabowo serta Juiceuf Kalla mensupport Anies. Kampanye berbau SARA, kampanye mayat serta ayat memperoleh momentum karna tulisan Buni Yani. 

Saat ini, bebrapa sekali lagi dalam atmosfer politik yang beralih, Buni Yani telah tidak dipandang. Dia hanya seseorang pembuat gaduh.



Perlawanan Silent Majority

Senyatanya, akibatnya karena timbulnya pergerakan Islam radikal serta anti Pancasila ke permukaan buat peta kemampuan mereka terpetakan. Bahkan juga karna euphoria itu banyak rancangan serta gagasan teroris digagalkan. Pemicunya yaitu beberapa teroris terasa telah memperoleh angin serta aparat lengah. 

Mengakibatkan, grup beberapa teroris Bekasi, Bandung, Wonosari, Yogyakarta (ini pergerakan Islam radikal berpusat di Jogokaryan harus diwaspadai), Bandung, Riau, Padang, Bima, Magelang, Rekanggung, Karawang, Cianjur, Jakarta, Sukabumi, serta sebagian tempat berhasil digagalkan. 

Ketegasan umum melawan intoleran diwujudkan dalam ketentuan Presiden Jokowi keluarkan Perppu Ormas. Nah, dalam keadaan begini, masihkah beberapa politikus semprul membela Buni Yani? Penyebabnya kisruh penuh SARA serta intoleransi? Mereka tunggang langgang menjauhinya. 

(Bila ada skenario membebaskan Buni Yani oleh politikus yang mempunyai tujuan menyudutkan serta memecah support pada Presiden Jokowi yang dipandang tidak membela Ahok, itu juga harga pembebasannya juga akan begitu dahsyat. Lagi-lagi kegaduhan yang pasti Presiden Jokowi tidak menginginkan. 

Langkah amannya yaitu memenjaraka Buni Yani yang rapuh serta loyo support. Tidak berguna serupa sekali. Jadi, walaupun tidak perlu, untuk melindungi kestabilan serta support untuk Pancasila dari rong-rongan Islam radikal serta simpatisannya, dia mesti dibui.) 

Peranan Buni Yani tidaklah peranan aktor perlu. Dia cuma kelas cere pilek yg tidak berarti serupa sekali untuk dibela. Nilai manfaatnya telah tak ada karna fakir budi pekerti serta penuh kedengkian. Pemerintah tidak ingin kecolongan oleh orang seperti ini.


Delik Formil bukan Delik Materiil

Pasal yang menjerat Buni Yani ini cuma mengatur perbuatan yang tunjukkan provokasi, berbentuk provokatif. Yang begitu terang di sini yaitu cuma mengenai penebaran info. Tidak pikirkan efek serta kerugian karna ditata jadi delik formil. Ini Buni Yani tidak memahami. 

Cermati bunyi Pasal 28 ayat (2) UU ITE. “Setiap Orang dengan berniat serta tanpa ada hak menebarkan info yang diperuntukkan untuk menyebabkan rasa kebencian atau permusuhan individu serta/atau grup orang-orang spesifik berdasar pada atas suku, agama, ras, serta antargolongan (SARA). ” 

Maksud pasal ini yaitu untuk menghindar terjadinya permusuhan, kerusuhan, atau bahkan juga perpecahan yang didasarkan pada gosip SARA, karena info negatif yang berbentuk provokatif. Gosip SARA dalam pandangan orang-orang adalah gosip yang cukup peka. Oleh karenanya, pasal ini ditata dalam delik formil, serta bukanlah delik materil. 

Masih tetap belum juga terang Buni Yani? Lihatlah makna lebih dalam sekali lagi namanya delik formil. 

Jadi lewat cara apapun Buni Yani juga akan dibui karna menebarkan info yang menghasut serta terlebih (dapat dibuktikan) menyebabkan kegaduhan.


Keberpihakan Majelis Hakim

Buni Yani bisa mengharapkan untuk memperoleh hakim yang berpihak pada dianya karna dianya berjasa untuk Anies-Sandi. Tetapi, lagi peta politik sudah beralih. Beberapa hakim, jaksa, serta aparat penegak hukum akan tidak terjerat untuk cuma membebaskan Buni Yani yg tidak mempunyai nilai tawar apa pun. 

Bahkan juga bila dilewatkan dia juga akan jadi pahlawan baru serta juga akan mendorong makin banyak manusia fakir budi seperti dia. 

Penegak hukum juga melek hukum mengenai delik formil barusan. Cukup di situ. Majelis hakim juga akan tidak buat kekeliruan. Peradilan masalah Buni Yani ini juga akan panjang bila hakim tidak membui Buni Yani. 

Jadi, dengan lihat ke-8 argumen diatas, jadi bisa di pastikan Buni Yani juga akan masuk bui untuk memertanggungkan tindakannya, yaitu memosting penggalan video pidato Ahok. Pasal dalam UU ITE sudah terang juga. Hal semacam ini ditambah dengan peta politik yang beralih serta kebutuhan Pilres 2019 yang kompleks. Salam bahagia ala saya.


0 komentar:

Posting Komentar

BeritaJakart2017. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

 
close
Poker Online Terbaik Indonesia