Loading...

Senin, 10 Juli 2017

Seseorang Di Medsos Sedang Di PerbincangKan Karena Status Mengenai Tuhan, Tuhan Yang Maha Sempurna Menciptakan Produk Gagal Berupa Orang Kafir

Berita - Viral -  Dikotomi muslim atau kafir memanglah terdaftar dalam Al-Qur’an. Tetapi, ada status itu bukanlah bermakna kita membeda-bedakan seorang. Rasulullah Saw tidak melarang kita berhubungan dengan beberapa orang yang berlainan agama atau non muslim. 

Namun sebelumnya sangat jauh, terlebih dulu kita cari info, apa sebenarnya pengertian kafir, satu kosakata yang belakangan ini seringkali kita dengar. Menurut Mu’nim Sirry, dalam artikelnya yang saya kutip, kata “kafir” serta beragam derivasinya dijelaskan berkali-kali (sekitaran 500 kali) dalam al-Qur’an. Bahkan juga, dapat disebutkan, arti “kafir” atau “kufr” adalah satu diantara rencana teologis yang begitu perlu dalam al-Qur’an (geotimes co. id, 24 Februari 2017). 

Problemnya menurut pelajari Mu’nim Sirry, nyatanya dalam Al-Qur’an arti kafir tidak tunggal serta statis. Pengertian kafir bukanlah bermakna beberapa orang yang berbeda agamanya dengan umat muslim. Diliat dari histori atau Sirah Nabi Saw, paling tidak ada ketidaksamaan konsentrasi penyebutan kafir, sesuai sama fase Al-Qur’an tersebut yang menurut sarjana Jerman, Theodor Nöldeke, membagi al-Qur’an kedalam empat fase : Mekkah awal, Mekkah pertengahan, Mekkah akhir, serta Madinah. 

Dasarnya, penyebutan kafir tidak ajeg. Lantas, siapakah beberapa orang kafir? Jawabnya, mereka yang memperagakan permusuhan pada Nabi serta beberapa pengikutnya. Pada fase ini juga, nampaknya, kafir bukanlah kelompok yang statis, namun berbentuk keadaanonal. Berarti, tiap-tiap orang, termasuk juga Muslim, dapat jadi kafir apabila atau ketika lakukan perbuatan kufr. 

Lantas, lalu seorang, sebut saja berinisial JS, membuat status di sosial media kalau beberapa orang kafir yaitu product tidak berhasil Allah SWT. Entahlah, apakah status ini serius atau cuma bercanda untuk jadikan bahan banyolan. Sebab bila serius, pemikiran begini benar-benar begitu memrihatinkan. Yang tidak habis dipahami saat Tuhan nyatanya membuat product tidak berhasil. Serta yang disebut dengan product tidak berhasil yaitu kehadiran “orang-orang kafir. ” Bagaimana mungkin saja ada satu “contradictio in terminis. ” Tuhan yang serba Maha, membuat product tidak berhasil? 
Di sinilah lalu, saya tidak berhasil memahami sembari garuk-garuk kepala. Tidakkah satu keyakinan, kepercayaan atau agama yaitu satu pilihan? Bahkan juga, dalam derajat spesifik yaitu juga warisan, seperti sempat ditulis Afi Nihaya Faradisa, seseorang remaja putri yang sekian waktu lalu pernah viral? Serta yang lebih perlu untuk digaris bawahi yaitu kalau dalam Islam ada ayat yang menyatakan kalau pemaksaan dalam beragama dilarang serupa sekali “Laa Ikrahaa fiddin. ” Tak ada paksaan dalam beragama. 

Bahkan juga dengan tegas Allah SWT menyebutkan kalau ketidaksamaan yaitu sunnatullah. Ada suku, bangsa, bhs bahkan juga agama yaitu sebentuk ketetapan Allah SWT. Dengan hal tersebut, ada beberapa orang yang sama-sama berlainan agama serta apa yang diyakininya yaitu malah bentuk kesempurnaan Tuhan, bukanlah product tidak berhasil dari Tuhan tersebut. Orang yang berfikir kalau Tuhan membuat product tidak berhasil, bermakna dia sendiri adalah product yang tidak berhasil. Namun, bukanlah product tidak berhasil dari Tuhan, tetapi product tidak berhasil dari pemikirannya sendiri. 

Problemnya saat ini, ketidaksamaan pada muslim serta kafir seolah-olah di buat jurang pemisah yg tidak dapat dipertemukan. Seakan-akan mesti ada pemisah yang pasti, hingga hubungan juga kelihatannya tidak bisa dikerjakan dengan beberapa orang yang berlainan kepercayaan. Berikut yang beresiko. Orang-orang kita yaitu majemuk mulai sejak jaman dulu. Artefak serta peninggalan nenek moyang kita menerangkan toleransi yang sebenarnya telah kita punyai. Bagaimana Candi Borobudur-nya Buddha dapat berdampingan tidak jauh dengan Candi Prambanan Hindu yaitu contoh-contoh toleransi yang riil. 

Dengan hal tersebut, yaitu hak seorang untuk jadi muslim. Demikian sebaliknya, hak seorang yang beda untuk jadi penganut Hindu, Budha, Nasrani, atau bahkan juga tidak untuk berafiliasi pada agama manapun. Lantas, dengan pilihan-pilihan itu, dimana letak “produk tidak berhasilnya? ” 

Tidak harusnya kita mudah melemparkan kalimat kafir. Berkaitan masalah yang kafir, Nabi Muhammad Saw sempat berkata, siapa yang menyeru pada seorang dengan sebutan kekafiran atau ia menyebutkan : Wahai musuh Allah, sesaat yang dituduhnya itu tidak sekian, jadi sebutan itu kembali padanya (H. R. Muslim : 61). 

Terkecuali Abu Dzar seperti diriwayatkan diatas, Ibnu ‘Umar juga mengungkapkan kalimat itu : Jika seorang menyeru pada saudaranya, ‘Wahai orang kafir’, jadi benar-benar juga akan kembali sebutan kekafiran itu pada salah seseorang dari keduanya. Apabila orang yang dimaksud kafir itu memanglah kafir, jadi sebutan itu layak untuk dia. Apabila tidak, jadi sebutan kafir itu kembali pada yang mengatakan (H. R. al-Bukhari/6104 serta Muslim/60).

Jadi Bagaimana Mneurut Anda ?


Salam Hangat BeritaJakarta2017..........................

0 komentar:

Posting Komentar

BeritaJakart2017. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

 
close
Poker Online Terbaik Indonesia