Loading...

Selasa, 20 Juni 2017

Viral ! Zaman Memang Sudah Menjadi Edan, Murid Berani Pukuli Guru Hingga Babak Belur Karena Tinggal Kelas

Viral ! Zaman Memang Sudah Menjadi Edan, Murid Berani Pukuli Guru Hingga Babak Belur Karena Tinggal Kelas
Korban
Berita - Jaman telah beralih, terbalik 180 derajat. Paling tidak tersebut yang berlangsung dalam dunia pendidikan saat ini. Serta masalah jenis begini telah banyak berlangsung serta dikabarkan, seakan telah adalah hal wajar bila berlangsung. 

Seseorang murid berinisial EY, 20 th., bertindak keji si luar batas etika. Dia lakukan penganiayaan pada seseorang guru hingga kepalanya benjol karna dipukul. Momen ini berlangsung pada Sabtu tempo hari. 

Sebagai korbannya yaitu seseorang guru berinisial PR, 34 th.. Waktu itu, EY yang disebut siswa kelas X SMAN 1 Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya tidak terima karna tidak naik kelas. Waktu pembagian rapor, nilai yang diperoleh EY membuatnya tetaplah tinggal di kelas X. 

EY terasa sakit hati pada PR karna berasumsi kalau nilai mata pelajaran yang di ajarkan oleh PR yang mengakibatkan dianya tidak naik kelas. Sesudah naik pitam, EY segera ambil satu kursi kayu didekatnya untuk dipakai jadi alat untuk menganiaya gurunya itu. EY juga memukul dengan tangannya ke kepala PR dibagian kening serta kepala sisi belakang. Karena pukulan itu PR menanggung derita benjol dibagian kening samping kanan matanya serta rasakan pusing dan trauma yang cukup mendalam atas peristiwa itu. 

Masalah seperti seringkali berlangsung. Rasa-rasanya kita semuanya sepakat, dahulu waktu kita masih tetap sekolah, yang berlangsung jadi demikian sebaliknya. Kita demikian enggan pada guru, tidak berani beberapa macam, tidak hingga segitu kurang ajarnya sampai hingga memukul guru. Dahulu bila kita dimarahi, dipukul atau dijewer guru, kita bahkan juga tidak berani memberikan laporan ini pada orangtua kita. Umumnya kita jadi semakin dimarahi serta dihadiahi pukulan penambahan. Maka dari itu saat itu kita pilih diam saja daripada digilas orangtua. 

Namun saat ini beda narasi. Dunia jungkir balik. Banyak masalah dimana murid salah, ditegasi guru, eh muridnya lapor pada orangtua, serta orang tuanya ngamuk. Ngamuknya juga berbagai type, ada yang sebagian geram, lapor polisi, maki bahkan juga memukuli guru. Bila ingin bicara kasar, muridnya goblok, orangtua juga serupa gobloknya. Telah terang anaknya salah, jadi dibela. Serupa saja membiarkan anaknya jadi sampah. 

Saya juga miliki rekan seseorang guru sekolah di satu kota kecil. Dia juga bingung dengan fenomena ini, hingga susah atau tidak tahu mesti bagaimana menghadapinya. Kadang-kadang, karena sangat lelah serta tidak perduli sekali lagi, dia biarlah saja muridnya. Ditindak dengan keras, takut terserang masalah hukum. Tambah baik main aman saja, apa yang berlangsung lalu, biarlah saja. Jadi janganlah salahkan siapa juga bila saat ini banyak murid sampah yang kerjanya tak tahu apa. Ingin bagaimana sekali lagi, sebagian dari mereka berlaku sesuka hati dengan berlindung dibalik hukum serta orangtua yang terkadang tidak bijak menanggapi problem. 

Satu hal sebagai sinyal bertanya. EY berumur 20 th. serta masih tetap di kelas X (SMA kelas 1)? Ini ada peluang anak ini telat masuk sekolah atau memanglah telah sempat tinggal kelas sekian kali. Bila memanglah telah sempat tinggal kelas sekian kali, lumrah sikapnya demikian. Mungkin saja malas belajar, serta umumnya orang malas sikapnya tidak jauh lain. 

PR (sang guru) sudah memberikan laporan peristiwa itu ke Polsek Kubu. Masalah ini saat ini dikerjakan kepolisian berkaitan pidana pasal 170 KUHP. EY sendiri telah diamankan di Polsek Kubu untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Guru yang upahnya terkadang tidak seberapa mesti bekerja dengan beban yang terkadang begitu berat. Belum juga hadapi tingkah beragam jenis murid dalam satu ruangan kelas. Bahkan juga ada pula yg tidak terima upah sepanjang berbulan-bulan. Lumrah mereka dimaksud pahlawan tanpa ada sinyal layanan. Mungkin saja EY berfikir PR yaitu guru yang serupa sekali tidak berjasa, hingga ngamuk serta main hajar. 

Dahulu pada saat masih tetap sekolah, jujur, saya serta rekan-rekan juga tidak sukai dengan sebagian guru. Namun yah cuma hanya kritik, atau paling kronis jadikan bahan lelucon dalam lingkaran sesama rekan (maafkan saya). Namun tidak sempat sekali juga kami memaki, mengatakan sumpah serapah terlebih menghajar guru. Tidak sempat sekali juga. Namun saat ini aksi semakin dieskalasi lewat cara kasar. Mungkin saja satu tahun lebih yang akan datang, dapat lebih kronis sekali lagi. Sampai kini murid yang senantiasa dilindungi, bagaimana dengan perlindungan pada guru? 


Bagaimana menurut Anda?



SalamHangat BeritaJakarta2017........

0 komentar:

Posting Komentar

BeritaJakart2017. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

 
close
Poker Online Terbaik Indonesia